Selama 13 tahun, Sutiyana, pria kelahiran Boyolali, telah memimpin Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Subur di Desa Pangkalan Tiga, Kecamatan Pangkalan Lada, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Kepemimpinan Sutiyana berhasil membantu KUD Tani Subur berkembang hingga memiliki aset hingga miliaran rupiah dan bertahan bahkan saat masa sulit akibat pandemi Covid-19 seperti sekarang.

KUD yang terbentuk pada 1984 ini bertujuan untuk memberikan bantuan pada transmigran berupa sembako dan kemudian melakukan diversifikasi usaha, menawarkan pinjaman serta menyediakan fasilitas untuk ternak, unggas, dan sejenisnya.

Dalam perjalanan karirnya, Sutiyana, yang berprofesi sebagai petani sawit dan peternak telah terpilih dua periode sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotawaringin Barat sejak 2014, menunjukkan bahwa warga Kotawaringin Barat percaya pada kinerja Sutiyana.

Sebagai ketua koperasi, Sutiyana menyampaikan bahwa di usia yang ke-36 tahun ini, KUD Tani Subur berkomitmen akan terus berkembang dan memajukan masyarakat desa.

“Untuk bisa menyejahterakan anggota koperasi dan warga sekitar, kami terus konsisten memberikan yang terbaik dengan penuhi kebutuhan melalui pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan diri dan produksi kelapa sawit berkelanjutan,” jelas Sutiyana.

Pelatihan-pelatihan tersebut meningkatkan kemampuan berorganisasi dan praktik kelapa sawit berkelanjutan bagi para anggotanya. Mengingat hampir seluruh petani yang tergabung dalam koperasi sudah memiliki sertifikasi, kebun-kebun sawit mereka mulai dirawat dengan baik sesuai dengan standar sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). KUD Tani Subur sendiri merupakan kelompok petani kelapa sawit pertama yang dipilih untuk mengimplementasikan sistem sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan di Kalimantan.

Program sertifikasi berkelanjutan yang telah dijalankan KUD Tani Subur di bawah dampingan Yayasan Inobu menghasilkan keuntungan finansial yang digunakan untuk diversifikasi usaha. Saat ini, Desa Pangkalan Tiga memiliki toko serba ada, peternakan sapi, dan agrowisata di tengah perkebunan sawit, suatu pilihan yang menarik bagi keluarga untuk menghabiskan waktu bersama di rekreasi wisata air dan tempat pemancingan.

Sebagai pemimpin sekaligus pembina koperasi, Sutiyana terus berinovasi untuk memajukan koperasinya dan membantu petani menerapkan praktik berkelanjutan. Salah satunya dengan mensosialisasikan sebuah aplikasi Nilai Konservasi Tinggi (NKT) untuk memudahkan petani melaporkan satwa liar di perkebunan kelapa sawit.

“Saya juga telah menanamkan prinsip-prinsip keterbukaan dan keberanian melangkah pada anggota KUD Tani Subur dalam mengelola koperasi,” ujar Sutiyana. “Evaluasi koperasi juga kami lakukan setiap Senin pagi untuk mengetahui bagaimana kinerja kita pada minggu sebelumnya.”

Aktivitas KUD Tani Subur diawasi oleh badan pengawas. Ini memudahkan Sutiyana dan anggota lainnya tetap berada di jalur yang tepat untuk meningkatkan pendapatan koperasi. Dampak pandemi Covid-19 juga dirasakan oleh para anggota koperasi.

“Kami merasa terpukul karena pandemi ini. Biasanya kami mendapatkan pendapatan hingga Rp 2 miliar dari program agrowisata, namun karena kebijakan pemerintah daerah untuk menutup tempat wisata, pendapatan dari agrowisata pun minus,” Sutiyana menjelaskan bisnis koperasinya yang sedang turun.

Alih-alih menyerah, Sutiyana berusaha menularkan semangat pada anggota koperasi untuk tetap produktif mengembangkan program kerja lainnya, seperti toko serba ada peternakan sapi yang memanfaatkan limbah perkebunan sawit. Di balik itu semua, Sutiyana, seorang petani, dan seorang pemimpin, berharap KUD Tani Subur dapat terus membawa manfaat bagi Desa Pangkalan Tiga.

“Harapannya, KUD Tani Subur dapat menyokong perekonomian warga setempat dengan bisnis-bisnis yang dijalankannya,”ujar Sutiyana.

words by

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on facebook

Tidak ada komentar on Sutiyana: Memimpin Koperasi dengan Perkembangan Bisnis yang Pesat

Tinggalkan komentar