Siapa bilang sertifikasi keberlanjutan kelapa sawit susah?

Kini, semakin banyak pembeli yang menginginkan produk minyak kelapa sawit yang berkelanjutan, yakni minyak yang dihasilkan oleh pekebun dengan teknik berbudidaya yang baik dan tidak merusak lingkungan serta tidak menyebabkan isu-isu sosial seperti konflik lahan. Prinsip-prinsip berkelanjutan ini harus dipatuhi oleh pekebun kelapa sawit, baik perusahaan besar maupun petani kecil. Jika tidak, produk yang dihasilkan beresiko ditolak oleh pasar.

Sebagai bukti telah menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan, pekebun perlu mendapatkan sertifikasi berkelanjutan. Ada dua label sertifikasi yang paling dikenal pekebun Indonesia. Pertama adalah ISPO, yakni sertifikasi minyak kelapa sawit berkelanjutan Indonesia yang diwajibkan oleh pemerintah Indonesia bagi semua pekebun Indonesia. Kedua adalah RSPO atau Roundtable on Sustainable Palm Oil, yakni sertifikasi minyak kelapa sawit berkelanjutan secara sukarela namun sertifikatnya dapat dijual untuk mendapatkan harga premium.

Banyak pekebun yang berpikir mendapatkan sertifikasi berkelanjutan itu susah. Pada kenyataannya, sebanyak 12,750 pekebun swadaya yang telah mendapatkan sertifikasi. Ini merupakan bukti bahwa mendapatkan sertifikasi tidak susah jika dikerjakan bersama-sama.

Apa yang bisa dilakukan oleh pekebun supaya bisa tersertifikasi?

  1. Pekebun yang berkebun secara mandiri harus tergabung dalam kelompok tani. Dalam berkelompok, biasanya ada pengurus atau ketua kelompok yang bertugas untuk mengurus kegiatan sertifikasi.

  2. Selanjutnya, pekebun harus memiliki dokumen legal terkait dengan lahan dan kegiatan berkebunnya. Pekebun yang lahannya di bawah 25 hektar dapat mengurus Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) ke dinas perkebunan di kabupaten. Penerbitan STDB ini seharusnya diberikan secara gratis bagi pekebun apabila lokasi kebun di luar kawasan hutan negara.

  3. Bersama dengan kelompok tani, pekebun akan mempersiapkan diri untuk dapat tersertifikasi termasuk menyusun standar dalam berkebun yang dipatuhi oleh semua anggota kelompok. Pekebun juga tidak perlu khawatir mengenai standar-standar tersebut karena pekebun akan mendapatkan materi pelatihan yang dapat dipelajari lebih lanjut. Kunjungi situs tanibaik.inobu.org untuk mendapatkan materi-materi pelatihan secara gratis!

  4. Apabila semua anggota telah siap, proses audit dapat dilakukan. Proses ini dimulai dengan audit internal dan selanjutnya audit oleh pihak ketiga.

Dalam proses persiapan mendapatkan sertifikasi, banyak pihak yang berkomitmen membantu pekebun. Siapa saja mereka?

  1. Bupati atau dinas terkait yang mengurus perkebunan di tingkat kabupaten. Bupati atau Walikota di tingkat kabupaten/kota penghasil minyak kelapa sawit diinstruksikan oleh Presiden untuk menyusun rencana aksi daerah untuk memberikan pelayanan bagi pekebun dalam mendapatkan STDB dan sertifikasi ISPO.
  2. Pabrik kelapa sawit di sekitar lokasi kebun. Pabrik kelapa sawit yang bersertifikasi biasanya ingin memastikan juga suplier atau pemasoknya tersertifikasi sehingga banyak yang berkomitmen memberikan pelatihan ataupun dukungan lain yang diperlukan pekebun untuk tersertifikasi.
  3. Lembaga swadaya masyarakat (LSM). Beberapa LSM, seperti Yayasan Inobu, bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membantu pekebun yang ingin tersertifikasi. Beberapa organisasi lain yang memberikan pelayanan bagi pekebun termasuk: Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS).

Hubungi Yayasan Inobu di 0811 399 8810 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

words by

Silvia Irawan

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on facebook

Komentar on Siapa bilang sertifikasi keberlanjutan kelapa sawit susah?

    Ali Sobirin
    August 18, 2021

    Dengan adanya pendampingan sertifikasi yang di lakukan INOBU agar petani bisa tersertifikasi ISPO dan RSPO sangat membantu kami karena kekurang pahaman petani tentang proses Sertifikasi. Kami dari KUD Sawit Jaya Desa Suka Maju berterimakasih atas pendampingan yang telah dilakukan selama ini.

Tinggalkan komentar