Adino: Memanen Pala Berkualitas untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Adino, seorang petani tradisional di Desa Patimburak, Fakfak, dulu harus menerima harga pala yang rendah dan tidak menentu dari pihak tengkulak. Namun, kini Adino dan petani-petani pala lainnya, mulai meningkatkan mutu panen sehingga mereka bisa menjual hasil panen dengan harga yang lebih layak.

Adino sendiri adalah seorang transmigran dari Pulau Jawa yang menginjakkan kakinya di daerah perbukitan di Desa Patimburak untuk pertama kalinya pada 1998. Adino kemudian menikah dengan wanita asli di sana dan memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang masing-masing berusia 10 tahun dan lima tahun.

Di sana, Adino belajar bahasa daerah dan cara hidup masyarakat lokal, termasuk budidaya pala tradisional yang diwariskan dari leluhur secara turun-temurun.

Namun, Adino dan petani lainnya mulai merubah dan memperbarui teknik bertani mereka saat lembaga swadaya masyarakat lokal Yayasan Aspirasi Kaki Abu untuk Perubahan (AKAPe) dan Yayasan Inobu datang ke desanya di tahun 2016. Petani pala tradisional yang menjadi petani dampingan diajarkan teknik panen dan pascapanen yang benar untuk mutu pala yang lebih baik dan harga jual yang lebih tinggi.

Petani dianjurkan untuk mengambil buah pala yang sudah matang dan memetik langsung dari pohon yang menjulang tinggi dengan menggunakan galah untuk mencegah buah pala jatuh ke tanah. Hal ini bertujuan agar pala tidak terkontaminasi aflatoksin

Di sana, petani pria bertugas untuk memetik pala yang dari pohon yang memiliki tinggi sekitar 15 meter, dan petani wanita biasanya membantu mengumpulkan dan memilih buah pala yang sudah terlanjur jatuh ke tanah namun masih cukup bagus untuk dijual. Yang dicari oleh petani pala adalah biji pala dan fully, yakni lapisan luar pembungkus biji pala berwarna merah, sedangkan daging buah pala biasanya dibuang atau diolah menjadi manisan buah pala oleh ibu-ibu setempat.

Para petani juga merubah metode pengeringan mereka. Sebelumnya, hasil panen pala dikeringkan dengan teknik pengasapan menggunakan tungku masak dan dilakukan sendiri-sendiri atau bersama dengan keluarga. Sekarang, petani dampingan menyimpan dan mengeringkan hasil panen mereka di gudang dengan pemanas (heater) bertenaga surya. Dengan sistem pertanian kolektif ini, para petani mulai mencatat hasil panen dan penjualan mereka.

Peningkatan mutu panen membantu meningkatkan harga jual pala sekaligus menurunkan tekanan untuk membuka lahan baru untuk menanam pohon palan serta meningkatkan pendapatan para petani pala. Hal ini berarti pelatihan panen dan pascapanen membantu mengurangi deforestasi di Papua Barat jika diimplementasikan bersama dengan peraturan mengenai konservasi yang kuat.

Selain itu, petani pala juga terbantu dengan upaya optimalisasi rantai pasok distribusi untuk meningkatkan harga fully dan biji pala. Sebelumnya, Adino dan petani-petani lainnya harus menjual sendiri hasil panen mereka.

Letak Desa Patimburak yang jauh dari pusat kota menyebabkan petani harus menempuh perjalanan jauh untuk menjual hasil panen mereka. Dari desanya, Adino harus pergi menuju Distrik Kokas menggunakan perahu bermesin selama setidaknya 30 menit dan menyambung ke Kota Fakfak dengan angkot selama satu hingga dua jam. angkot (public minivan) for one to two hours.

Di pusat kota, Adino masih harus menawarkan hasil panennya ke tengkulak, yang dikenal dengan sebutan penadah, dari pintu ke pintu demi mendapatkan harga tertinggi. Dengan sistem jual-beli komoditas pertanian seperti ini, harga ditentukan oleh pihak tengkulak saja.

Para petani dampingan tak perlu lagi berdagang dengan cara seperti itu. Mereka hanya perlu pergi ke Distrik Kokas untuk menjual hasil panen mereka ke AKAPe dengan harga yang lebih layak karena mutu panen telah iukur dengan jelas.

Melalui sistem pemasaran yang baru ini, Desa Patimburak menghasil panen hingga 500 kilogram dan menghasilkan Rp 40 juta pada musim timur kemarin. Adino sendiri, yang memiliki kebun pala dengan luas kurang dari setengah hektar, mendapatkan Rp 2,3 juta untuk hasil panen pala sejumlah 20 kilogram. Jika menggunakan sistem penjualan yang lama, Adino hanya mendapatkan sekitar Rp 1,3 juta untuk jumlah panen yang sama.

Pendapatan yang meningkat ini memungkinkan Adino untuk mulai menabung untuk pendidikan anak-anaknya nanti.

“Uang lebihnya disimpan untuk sekolah anak-anak saya,” ujar Adino. “Saya harap harga pala bisa menjadi lebih baik lagi.”

Adino, seorang petani tradisional pala, sedang menunggu musim panen di Desa Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Musim panen, yang terjadi dua kali dalam satu tahun, dikenal dengan musim timur dan musim barat.

Setiap mendekati musim barat, yang dimulai dari Oktober hingga November, Adino merasa bersemangat lantaran hasil panennya akan lebih banyak dibandingkan dengan musim timur, yang dimulai dari April hingga Mei.

“Hasil panen tergantung dengan cuaca, tapi di musim barat hasilnya lebih banyak dibandingkan musim timur,” ujar Adino.

Adino hafal betul dengan siklus panen dan kondisi hutan pala miliknya yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya. Terang saja, Adino telah bekerja sebagai petani pala selama puluhan tahun.

words by

Sumarni Situmeang

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on facebook

Tidak ada komentar on Adino: Memanen Pala Berkualitas untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Tinggalkan komentar